Belajar Pemrograman Android sekaligus beramal

Belajar Teknologi mobile (android, red) sekaligus menggugah untuk beramal untuk kepedulian sesama, uang yg kami kumpulkan untuk disumbangkan ke negeri syam (Palestina- suriah) yang tengah krisis kemanusiaan, uang yang dikumpulkan tidak banyak, tapi ini kami gunakan untuk melatih hati kami untuk belajar lebih peduli kepada sesama. dana disalurkan melalui NGO yang terpercaya.

 

kursus android

belajar-android-jakartaisi materi : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1NExrfP2sYedN_RxPKAHkY6v1y0yljdz_yh2nZhOmZUg/edit?usp=sharing

kegiatan ini dilaksanakan di jakarta selatan, pada tgl 7-november -2015 kemarin

belajar-android-studio

antusias teman teman belajar pemrograman android

belajar-android-studio-jakarta

belajar android dengan ruangan sederhana (lesehan) dilengkapi dengan infocus. WIFI

belajar-sekaligus-beramal

dalam rangka silaturahmi para pelaku (pegiat teknologi informasi) sekaligus beramal

course-android-studio-peduli-syam

para temen2 peserta dari berbagai disiplin ilmu TI, Fisika dan Biologi.

tool yang kami gunakan yaitu Android studio. mudah2an acara ini akan berkelanjutan.. terimakasih dari temen2 wakaf ilmu nya dan juga peralatan proyektor dan lain nya.. semoga bermafaat ilmu nya untuk bersaing di dunia kerja dan diberikan pertolongan Allah swt di dunia dan akhirat..

DANA yang disumbangkan sebesar : Rp. 350.000,-

Syaikh Omar Muchtar dijuluki Lion of the Desert

Kelahiran dan Nasabnya

omar-mukhtar1

Umar Mukhtar lahir di Bathnan, wilayah Jabal Akhdhar, pada tahun 1862 M, ada yang mengatakan 1858 M, nama ayahnya Mukhtar bin Umar dari keluarga Farhat, dari kabilah Manfah. Pertumbuhannya Beliau tumbuh dan berkembang dari keluarga yang terhormat, sopan, akhlak dan sifat yang mulia, yang berpedoman kepada al-Quran dan as-Sunnah Rasulullah. Masa kecilnya Umar Mukhtar dan bersama saudaranya Muhammad telah ditinggal pergi oleh ayahnya untuk selamanya, selanjutnya mereka berdua diasuh oleh Syaikh Husain al-Gharyani (teman ayahnya).

Pendidikannya

Umar Mukhtar dan Muhammad di sekolahkan oleh Syaikh Husain al-Gharyani di madrasah milik kabilahnya, setelah itu Umar Mukhtar melanjutkan sekolahnya di wilayah Jaghbub dan ia pun bergabung dengan anak-anak kaum muslimin dari berbagai kabilah lain. Selama delapan tahun untuk menimba berbagai macam ilmu, seperti, fiqih, hadits dan tafsir.

Para pengajar di madrasahnya mengakui kecerdasan dan kecermelangan otaknya, serta integritas akhlak dan kecintaannya kepada dakwah, pengakuan temannya bahwa apabila Umar Mukhtar di bebani suatu pekerjaan beliau tidak pernah menunda pekerjaannya sampai esok hari, makanya beliau dikenal sebbagai orang yang bersungguh-sungguh, teguh pendirian, konsisten dan penyabar, beliau menjadi pusat perhatian para guru dan teman-teman sekolahnya, meski usianya masih belia. Para pengajar menyampaikan perkembangan akhlak setiap muridnya kepada as-Syaid Muhammad al-Mahdi, beliau sangat kagum dengan sifat-sifat Umar Mukhtar.

Wawasannya

Beliau mempunyai wawasan yang luas tentang silsilah dan ikatan-ikatan yang menghubungkan antar kabilah, adat-istiadat, kebiasaan dan beliau pun sampai paham, kemudian tempat tinggal kabilah-kabilah di sekitar lingkungan tumbuhnya ia pun juga paham. Beliau mempelajari cara menyelesaikan perselisihan yang terjadi dikalangan badui serta tuntutan dalam bersikap ketika mengajukan pendapat dan pandangan. Selain ahli dalam transportsi dan rute perjalanan di padang pasir, Umar Mukhtar juga mengetahui jalur-jalur strategi dari Bariqah ke Mesir dan Sudan serta dari Bariqah ke Jaghbub dan Kufrah. Ia pun memahami berbagai macam tumbuhan yang ada di Bariqah dan karakter masing-masing jenisnya. Bahkan, ia juga mengetahui berbagai macam penyakit hewan ternak sekaligus cara penyembuhannya, karena telah mendapat pengalaman secara turun menurun dari orang-orang badui. Pengetahuan mereka merupakan pengalaman dari hasil eksperimen yang panjang dan pengamatan yang sangat detail.

Umar Mukhtar juga mengetahui tanda-tanda setiap kabilah yang diletakkan di atas badan unta, kambing dan sapi yang berfungsi untuk mengenali pemiliknya. Semua pengetahuan tersebut menunjukkan kecerdasan dan kejeniusan Umar Mukhtar sejak masa mudanya.

Gambaran Fisiknya

Umar Mukhtar tingginya sedang, tapi lebih cenderung tinggi. Tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus. Suaranya terdengar serak karena bergema. Kata-katanya tegas, ungkapannya jelas dan pembicaraannya tidak membosankan. Bicaranya stabil, ketika beliau berbicara terlihat gigi serinya dan senyum tidak di buat-buat, beliau tertawa secukupnya. Jenggotnya lebat, sejak muda ia tidak mencukurnya. Umar Mukhtar terlihat sebagai sosok yang tenang berwibawa dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Kata-katanya berisi tampak pasti ketika mulai berbicara. Sifat-sifatnya berkembang seiring bertambah usianya.

Keberanian dan Kedermawanan beliau

Sejak muda Umar Mukhtar sudah nampak kepintarannya pada tahun 1311 H / 1894 M. Umar Mukhtar memutuskan pergi ke Sudan, beliau membawa rombongan-rombongan para pembesar seperti : • Sayyid Khalid Ibnu Musa • Sayyid Muhammad al-Musalusi • Qarjilah al-Mujbiri • Khalifah ad-Dibar az-Zawi. Sampai di Kufarah beliau bertemu dengan kafilah dagang dari suku Zawiyah dan Mudabirah, juga bertemu dangan pedagang lainnya dari Tarablus dari Banghazi yang sudah siap berangkat ke Sudan. Rombongan Umar Mukhtar bergabung dengan para pedagang yang sudah biasa menempuh rute padang pasir denga baik. Ketika mereka sampai di padang pasir wilayah Sudan, salah seorang pedagang ahli yang tahu rutenya berkata, “Sebentar lagi kita akan mendekati jalan yang berkelok, kita harus melaluinya, karena sudah tidak ada jalan yang lain, biasanya jalan itu ada singa yang menunggu mangsanya. Oleh karena itu siapkanlah seokor unta dari kalian untuk menyibukkan singa itu, agar perjalanan kita lancar tanpa gangguan”. Pedagang yang berkata tadi mengusulkan, agar rombongannya menanggung seokor unta kurus bersama-sama. Dengan tegas Umar Mukhtar menolak usulan tersebut. Umar Mukhtar berkata, “Upeti yang harus dibayar oleh seorang yang lemah kepada orang kuat diantara kita sudah tidak berlaku, jika kita memberikannya ini merupakan tanda kehinaan dan kelemahan, kita lawan singa itu dengan senjata, biala ia menghalangi jalan kita. Diantara musafir itu ada yang ingin membatalkan niat beliau. Umar Mukhtar berkata, “Aku malu saat kembali nanti, aku berverita kepada mereka, bahwa aku telah menyerahkan untaku kepada seekor hewan yang menghalangi jalanku, sebenarnya aku siap menjaga untaku dan unta semua yang aku bawa. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan bertanggung jawab atas apa yang kalian pimpin”. Sikap pengecut adalah kebiasaan jelek yang harus kita hilangkan”. Sesampainya Umar Mukhtar dan anggota kafilahnya di jalan berkelok tadi, tiba-tiba keluarlah singa tersebut. Karena kepanikan, seorang pedagang tadi ketakutan dan tubuhnya bergemetar.

Ia berteriak, “Aku bersedia menyerahkan untaku, jangan kalian coba-coba melawan singa itu.” Menanggapi keadaan itu, segeralah Umar Mukhtar mengokang senapan buatan Yunani, lalu beliau tembakan satu peluru ke singa itu. Peluru yang beliau tembakkan sanggup menembus tubuh singa tersebut, namun belum sampai membunuhnya. Setelah tembakkan peluru pertama, singa semakin membabi buta (ngamuk), Umar Mukhtar menembakkan peluru yang kedua kalinya, sehingga singa tersebut tersungkur mati.

Umar Mukhtar menguliti singa itu untuk meyakinkan anggota kafilahnya bahwa singa tersebut sudah mati. Peristiwa ini menunjukkan keberanian Umar Mukhtar, sehingga menjadi buah bibir, dikalangan orang-orang sehingga orang-orang merasa takjub.

Ustadz Muhammad Thayyib Asyhab bertanya kepada Umar Mukhtar tentang peristiwa itu ketika di Kamp Magharib, di tenda Sayyid Muhammad Faidi, lalu Umar Mukhtar menjawab permintaannya, “Wahai anakku, apakah kamu ingin agar aku bangga karena berhasil membunuh binatang hewan?” Kemudian beliau berkata kepadaku, sebagaimana perkataan orang arab dahulu kepada pesaingnya, yang berhasil membunuh seekor singa?”, Umar Mukhtar menolak untuk berbangga, lalu beliau membacakan firman Allah, وما رميت إذ رميت ولكن الله رمى …………. “…………dan bukan kamu yang melempar, ketika kamu melempar, akan tetapi Allah yang melempar……” ( QS. Al-anfal : 17).

Jawaban Umar Mukhtar dengan ayat tersebut menunjukkan pengaruh al-Qur’an yang mendalam dalam dirinya, beliau telah belajar, bahwa orang yang memiliki iman dan tauhid memilki pengetahuan yang mendalam tentang hakikat kehidupan dan pandangan yang jauh tentang akhirat. Pengangkatan Umar Mukhtar Sebagai Amir Umar Mukhtar diangkat sebagai Amir Sanusiyah pada tahun 1897 M. oleh Muhammad al-Mahdi as-Sanusiyah. Umar Mukhtar sebagai pemimpin spiritual (kiai) untuk wilayah pegunungan Akhdar dekat Marj. Setelah menerima amanah tersebut, beliau melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, mengajarkan perkara-perkara agama kepada masyarakat dll, sehingga sifat-sifat pribadi beliau nampak di tengah-tengah kalangan masyarakat, sifat-sifat beliau yaitu : bijaksana, berhati-hati, berilmu, lemah lembut, zuhud, sabar dan ikhlas, beliau mengukir sejarah yang sangat terpuji. Ketika penjajah Francis menyerang kantor pusat gerakan Sanusiyah di Chad, gerakan Sanusiyah langsung melakukan konsulidasi, mempersiapkan jihad dan memilih panglima-panglima yang mumpuni.

Umar Mukhtar adalah salah satu panglima dari mereka. Ketika Umar Mukhtar menghadapi penjajah Francis, Umar Mukhtar mengerahkan kemampuannya sehingga kawan maupun lawannya begitu segan terhadap keuletannya, kekuatan tekad, ketajaman firasat, luasnya cakrawala pandang dan baiknya kepemimpinan. As-Sanisi berkata, “Seandainya kita punya sepuluh orang Umar Mukhtar, niscaya hal itu telah cukup bagi kita. Selanjutnya Umar Mukhtar tinggal di Chad, selain berjihad ia bekerja menyebarkan islam, ia memegang al-Qur’an di salah satu tangannya dan memegang pedang dengan tangannya yang lain. Pertempuran Pertama Pelawan Italia Pertempuran terjadi pada tahun 1911 M, pasukan Italia berjumlah lebih dari seribu orang yang siap tempur, tehun tersebut 1911 M, bersamaan akan datangnya hari raya Idhul Adha, Umar Mukhtar merayakan Idhul Adha di tengah perjalanan bersama anggota-anggotanya.

Syaikh Muhammad al-Akhdar al-’Isyawi yang dekat dengan Umar Mukhtar, berkata, “Ketika itu musuh menyerang kami dengan tiba-tiba dan dihadapi oleh pasukan mujahidin berkuda”. Pada saat musuh menyerang kami denga meriam, kamipun terpaksa turun ke tempat yang lebih rendah yang berupa lading gandum, buji-biji gandumpun berhamburan terkena peluru meriam, sehingga gandum itu seakan di panen dengan bajak. Armada-armada Italia melancarkan serangan-serangannya di pelabuhan-pelabuhan Thurabuls dan Burqah, maka semuanya berkumpul di medan peperangan khususnya di Burqah dan dimualinya perjuangan panjang yang berlangsungan selama 30 (tiga puluh) tahun lamanya, dimana orang-orang Sanusiyah memberikan pengorbanan terbesar yang pernah di suguhkan umat islam dewasa ini demi menjaga keberadaan mereka di sana.

Sejak kedatangan Italia ke Burqah dan Thurablus sampai waktu keluarnya mereka dari sana denga menderita kekalahan. Eksekusi Hukuman Mati Terhadap Pahlawan Islam Libia Pada pukul 09:00 pagi, hari Rabu, tanggal 16 September 1931 M di kota Suluk. Penjajah Italia melaksanakan hukuiman mati di tiang gantunga terhadap syaikh mujahid Umar Mukhtar, seorang pahlawanan jihad dan singa Jabal al-Akhdar di Saluq, bagian selatan kota Banghazi, setelah sekian lama beliau bergelut di medan jihad. Pada waktu itu, Italia berupaya keras untuk mengumoulkan penduduk Burqah, Bunghari dan sejumlah rakyat besar yang tak kurang dari 20 ribu orang agar hadir menyaksikan hukuman gantung bagi syaikh Umar Mukhtar.

Ketika syaikh Umar Mukhtar menuju tali tiang gantungan, beliau mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu an laa Ilaaha Illallah wa asyhadu anna Mumammadan Rasulullah” (Aku bersaksi tidak ada illah yang berhak di sembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Rasulullah adalah utusan Allah). Raut wajah syaikh yang agung ini bersinar-sinar karena sangat bergembira meraih kesyahidan dan keridhaan yang tulus terhadap qadha dan qadhar Allah ta’ala, ketika Umar Mukhtar sampai di tiang gantungan, pesawat terbang penjajah Italia naik ke udara di atas lapangan eksekusi lalu merendah, dengan suara yang sangat nyaring dan bising supaya para penduduk tidak dapat mendengarkan ucapan Umar Mukhtar. Boleh jadi dia berbicara denga mereka, atau dia mengatakan sesuatu yang dapat mereka dengarkan. Selanjutnya tali tiang gantungan itu pun naik secara perlahan dan pasti. Lalu seorang algojo menarik tali kezhaliman dan kebiadaban itu, sehingga ruh (nyawa) Umar Mukhtar yang bersih di angkat menuju Rabbnya dengan penuh ridha dan diridhai.

Demikianlah, semua orang yang digiring ke tempat pemandangan yang mengerikan ini melihat syaiklh Umar Mukhtar berjalan menuju tiang gantungan dengan langkah yang kokoh dan pasti. Kedua tangan beliau dirantai dengan besi dan dengan sebongkah senyuman penuh puas, yaitu senyuman yang merupakan penghormatan terakhir terhadap rakyat negerinya.

Umar Mukhtar, Amir Mujahidin Libya, memimpin jihad melawan penjajah Italia pada tahun 1920-1930-an. Dia berusia 70 tahun, ketika ia menderita luka parah, dan ditawan oleh penjajah.

Sebuah dialog di pengadilan kafir pada tahun 1931, antara “hakim” dan Umar Mukhtar:

– Apakah Anda melawan negara Italia?

Umar: Ya

– Apakah Anda mendorong orang untuk berperang melawan Italia?

Umar: Ya

– Apakah Anda menyadari hukuman untuk apa yang Anda lakukan?

Umar: Ya

– Selama berapa tahun Anda melawan Italia?

Umar: Sudah selama 20 tahun

– Apakah Anda menyesal atas apa yang telah Anda lakukan?

Umar: Tidak

– Apakah Anda menyadari bahwa Anda akan dieksekusi?

Umar: Ya

“Hakim” mengatakan:

– Ini merupakan akhir yang suram bagi orang seperti Anda.

Mendengar kata-kata ini, Umar Mukhtar menjawab:

– Sebaliknya, ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri hidup saya!

“Hakim” kemudian ingin membebaskannya dan mendeportasinya dari negara itu jika ia mau mengajak Mujahidin dalam sebuah pernyataan untuk menghentikan Jihad. Kemudian Umar Mukhtar mengatakan kata-katanya yang terkenal:

Jari telunjuk saya, yang mengakui dalam setiap ibadah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, tidak bisa menulis kata-kata dusta, kami tidak menyerah, kami menang atau mati!
– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/04/14/kata-kata-terakhir-umar-mukhtar.html#sthash.W6UXwlI7.dpuf

Saudaraku, engkau sebenarnya merdeka !

أخي أنت حرٌّ وراء السدود ….. أخي أنت حرٌّ بتلك القيود
إذا كنت بالله مستعصما …. فماذا يضيرك كيد العبيد؟!!

.

أخي هل تُراك سئمت الكفاح ؟ …. وألقيتَ عن كاهليك السلاح
فمن للضحايا يواسي الجراح ؟….. ويرفع راياتها من جديد

.

أخي: إنني اليوم صلب المراس … أدكُّ صخور الجبال الرواسي
غدا سأشيحُ بفأسي الخلاص … رؤوس الأفاعي إلى أن تبيد

.

أخي: إن ذرفت عليَّ الدموع … وبللت قبري بها في خشوع
فأوقد لهم من رفاتي الشموع … وسيروا بها نحو مجد تليد

.

أخي: إنْ نمتْ نلقَ أحبابنا …. فروضات ربي اُعدَّت لنا
وأطيارها رفرفت حولنا … فطوبى لنا في ديار الخلود

.

ساثار ولكن لرب ودين … وأمضي على سنتي في يقين
فإما إلى النصر فوق الأنام … وإما إلى الله في الخالدين .

Akhi Anta Hur (Saudaraku, engkau sebenarnya merdeka !)

Syed Qutb

Saudaraku engkau sebenarnya merdeka (walaupun dikurung) di sebalik jeriji besi itu,

Saudaraku engkau sebenarnya merdeka (walaupun) diikat dengan gari-gari itu,

Sekiranya engkau berpegang teguh kepada Allah,

Nescaya tiada tipudaya hamba yang dapat memudaratkanmu

.

Saudaraku, apakah yg berlaku kiranya engkau jemu untuk berjuang ?

Dan engkau melemparkan dari bahumu segala senjata-senjata ?

Siapakah yang akan mengubati luka para tentera yang cedera di medan peperangan ?

Dan siapa pula yang akan mengangkat kembali bendera kita ?

.

Saudaraku sesungguhnya aku pada hari ini adalah tukul besi yang keras,

Aku akan menghancurkan segala sihir/tipudaya jahat segala gunung-gunung yang mencakar langit (pemerintah yang zalim),

Pada hari esok aku akan menghapuskannya dengan pukulan penghabisan,

Segala kepala-kepala ular sehingga ia hancur berkecai.

.

Saudaraku, sekiranya engkau mengalirkan airmatamu atas pemergianku,

Dan engkau sirami pusaraku dengan airmata itu dengan penuh khusyuk (sedih),

Maka nyalakanlah bagi mereka (generasi berikutnya) daripada tulang-belulangku sebagai lilin,

Dan maralah dengannya ke arah kegemilangan yang menanti.

.

***(tambahan tiada dalam lagu tapi ada dalam syair)***

Saudaraku sesungguhnya aku tidak pernah jemu untuk berjuang,

Dan aku takkan mencampakkan senjata daripada badanku,

Sekiranya aku mati sesungguhnya aku syahid,

Dan engkau akan terus mara menuju kegemilangan yang agung.

***(habis tambahan)***

.

Saudaraku sekiranya kami mati kami pasti akan bertemu dengan kekasih-kekasih kami,

Bahkan taman syurga Tuhanku tersedia buat kami,

Serta burung-burungnya akan berterbangan di sekeliling kami,

Maka bergembiralah bagi kami dalam negeri yang abadi ini.

.

Aku pasti akan menuntut bela, atas dasar Tuhan dan agama,

Dan aku akan terus mara dengan perjalananku ini dengan penuh keyakinan,

Sama ada ia berupa kemenangan di atas semua manusia,

Ataupun ia adalah kepulanganku kepada Allah di dalam negeri yang kekal.

Syair terakhir imam syafi’i

 

ELAIKA – PADAMU YA ALLAH

MUNSYID : MOHAMMED OBAID
إلـيــك إلـــه الـخـلـق أرفــــع رغـبـتــي
Ku persembahkan kepada Mu tuhan sekelian makhluk, harapanku

وإن كـنـتُ يــا ذا الـمــن والـجــود مـجـرمـا
Sekalipun aku seorang yang berdosa wahai yang Maha pemberi dan pemurah

ولـمــا قـســا قـلـبـي وضـاقــت مـذاهـبــي
Tatkala keras hatiku dan sesak perjalanan hidupku

جـعـلـت الـرجــا مـنــي لـعـفـوك سـلـمــا
Ku jadikan rayuan daripada ku sebagai jalan mengharap keampunan Mu

فـمـا زلــتَ ذا عـفـو عــن الـذنـب لــم تـزل
Maka bilamana Engkau yang memiliki keampunan menghapuskan dosa yang berterusan ini

تــجــود و تـعــفــو مــنـــة وتـكــرمــا
Kurniaan Mu dan keampunan Mu adalah rahmat dan kemuliaan
ألــســت الــــذي غـذيـتـنـي وهـديـتـنــي
Bukankah Engkau yang memberi aku makan dan hidayah kepadaku

ولا زلــــت مـنـانــا عــلـــيّ ومـنـعـمــا
Dan janganlah Engkau hapuskan kurniaan anugerah dan ni’mat itu kepadaku

عـسـى مــن لــه الإحـســان يـغـفـر زلـتــي
Semoga orang yang memiliki ihsan mengampunkan kesalahanku

ويـسـتــر أوزاري ومــــا قــــد تـقــدمــا
Dan menutup dosa2ku dan setiap perkara yang telah lalu
فــإن تـعـف عـنــي تـعــف عـــن مـتـمـرد
Sekiranya Engkau ampunkan aku, ampunkan dari kederhakaan

ظــلــوم غــشــوم لا يــزايـــل مـأتــمــا
Kezaliman, penganiayaan yang tak akan terhapus di hari berhimpun kesedihan

و إن تنـتـقـم مــنــي فـلـســت بــآيــس
Dan jika Engkau membalas siksa terhadapku, aku tidak akan berputus asa

ولـــو أدخـلــوا نـفـسـي بـجــرم جـهـنـمـا
Sekalipun dosa2ku itu memasukkan diriku ke dalam neraka
فصيـحـا إذا مــا كــان فـــي ذكـــر ربـــه
Dia adalah seorang yang fasih ketika menyebut/mengingati tuhannya

وفيما سواه في الورى كان أعجما
Dan bilamana dia bersama selain tuhannya di dunia ini dia membisu

يـقــول: حبـيـبـي أنـــت سـؤلــي وبغـيـتـي
Dia berkata: Kekasihku, Engkaulah tempatku meminta dan berharap

كـفــى بـــك للـراجـيـن ســـؤلا ومـغـنـمـا
Cukuplah Engkau bagi yang berharap sebagai tempat bergantung dan memohon
أصـــــون ودادي أن يـدنــســه الـــهـــوى
Kupelihara kasihku yang dicemari nafsu

وأحــفــظ عــهــد الــحـــب أن يـتـثـلـمـا
Dan aku jaga janji kasih yang telah tercalar

فـفـي يقظـتـي شــوق وفــي غـفـوتـي مـنــى
Di saat ku jaga, aku rindu, dan di saat ku lelap aku berharap

تــلاحــق خــطــوي نــشــوة وتـرنــمــا
Mengiringi langkahku dengan penuh semangat dan berulang2
فـجـرمـي عـظـيـم مـــن قـديــم وحــــادث
Maka dosaku adalah besar dari dulu dan kini

وعـفــوك يـأتــي الـعـبـد أعـلــى وأجـسـمـا
Sedang keampunan Mu yang mendatangi hamba adalah lebih agung dan lebih mulia

Cinta penuh keteladanan

forest

‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali.

“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..”

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. “

“Aku?”, tanyanya tak yakin.

“Ya. Engkau wahai saudaraku!”

“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

 

Cinta sahabat Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra memang luar biasa indah, cinta  yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun expresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Konon karena saking teramat rahasianya setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya.
Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Ummar melamar fatimah. Sementara dirinya  belum siap untuk melakukannya.
Namun kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah.
Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.
Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”,
Ali pun bertanya mengapa ia tak mahu menikah dengannya, dan  apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”.

pohon bertasbih pada tuhan semesta alam

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of plant Molecular Biologies, menyebutkan sekelompok ilmuan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak biasa didengar oleh telinga biasa. suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam canggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah ) dengan sebuah alat canggih yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik!!!

Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengng tidak tahu harus berkomentar apa.

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!”

Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.

Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)

“…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)

Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafazh jalalah (nama Allah) sebagaimana tampak dalam layar.

Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara.

Subhanallah, Maha suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1.400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada sang profesor.

Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadatain: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”

Seorang profesor ini telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin yang sedang terperangah.

Allahu akbar! Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya, dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah Islam! (DZ/Faiz-senyum muslim)*

fenemona ini telah di isyaratkan di mega film Avatar blue di planet pandora,. bahwa telah menemukan pohon kehidupan yang berdenyut elektrik..

eramuslim.com

Menghargai Perjalanan Proses

Siapapun dari kita yang tak mau melewati proses, sudah bisa dipastikan kesuksesan hanya akan jadi impian semata.

Alkisah, seorang anak kecil menemukan kepompong kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul dari kepompong. anak itu duduk dan mengamati selama beberapa jam bagaimana si kupu-kupu itu berjuang memaksa dirinya melalui lubang kecil itu. kemudian kupu-kupu itu berhasil membuat kemajuan. keliatanya ia telah berjuang semampunya dan ia tidak bisa lagi melakukan yang lebih. Akhirnya, anak tersebut memutuskan untuk membantunya. dia ambil sebuah gunting memotong sisa cangkang dari kepompong. kupu-kupu itu keluar dengan mudahnya.

Hari demi hari terus berjalan, sementara anak kecil itu masih penasaran mengamati perkembangan kupu-kupu yang telah ditolongnya. ingin sekali ia melihat kupu-kupu yang ditolongnya itu terbang menjelajah angkasa. Sayang, semua itu tak kunjung terjadi. kupu-kupu itu mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, dan sayapnya mengkerut. anak itu terus mengamati karena ia berharap suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar. sehingga mampu menopang tubuhnya, yang  yang mungkin berkembang dalam waktu yang tak lama lagi. Ternyata semuanya tak akan terjadi. kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak dengan tubuh gembung dan sayap mengkerut dan ia tak pernah bisa terbang.

Anak kecil itu tentu tidak tahubahwa bantuan yang diberikannya justru menjerumuskan kupu-kupu yang malang. kepompong mempunyai logika sendiri, untuk menjadi seekor kupu-kupu yang manis, harus melalui beragam proses yang mesti dijalani nya sendiri. ia harus bertapa sekian lama, lalu, harus melepaskan sendiri  tubuhnya dari jeratan dedaunan yang membungkusnya. ketika ulat dalam kepompong tidak melalui proses yang semestinya di jalani., ia menjadi kupu-kupu yang gagal.

Sperti halnya kupu-kupu, kita juga akan menghadapi rangkaian proses untuk mencapai kesuksesan hidup. siapapun dari kita yang tak mau melewati proses itu, sudah bisa dipastikan kesuksesan hanya akan jadi impian di siang bolong.

ibarat membuat bagunan bertingkat limabelas, mau tak mau, terlebih dahulu kita harus membuat gedung lantai pertama bru lantai kedua, ketiga dan seterusnya. Langsung membuat lantai ke lima belas, tanpa terlebih dahulu membuat lantai dibawahnya adalah perbuatan melawan proses dan itu mustakhil adanya.

hidup ini bukamlah mimpi, dimana segala kejadian bisa lepas begitu saja dari kejadian-kejadian lainnya. hidup ini bukan juga dunia dongeng, dimana segala sesuatu bisa dihadirkan hanya dengan melalui mantra. Hidup ini bukanlah syurga, dimana semuanya dihamparkan kepada kita jika berkehendak.

Tuhan telah menjadikan dunia lengkap dengan hukum -hukumnya. yang mau memahami dan mengikuti hukum itu, kelak ia akan memperoleh kesuksesan.

Kemudian hatimu menjadi keras sesudah itu sehingga seperti batu, malahan lebih keras lagi. sebab ada batu-batu yang memancar sungai-sungai dari pada nya, dan ada pula yang terbelah mengeluarkan air. dan ada pula yang meluncur jatuh, karena takutnya pada Allah. dan Allah tidak lengah akan apa yang akan kamu lakukan Al-Baqarah:74

Mana mungkin kita menjadi orang pandai, yang tahu banyak hal, sementara tak pernah sekalipun kita membaca buku dan mau mencernanya. Mana mungkin kita bisa menjadi designer yang andal, sedang tak sekalipun kita pernah membuat pakaian. Mana mungkin kita menjadi seorang milyarder, sedang tak sedikitpun kita berusaha. Sebaliknya jika kita mau berkerja keras, mau melewati setiap proses yang menghadang, seringkali kita memperoleh kesuksesan yang dulu sama sekali tak terbayangkan.

Sungguh, Allah tidak akan mengubah (nasib) suatu kaum jika mereka tidak mengubah keadaanya sendiri… QS. Ar Ra’d (13:11)

dikutip: 14 langkah bagaimana Rasulullah SAW,  membangun kerajaan bisnis.