Instalasi PATH JAVA di Windows

Instalasi PATH JAVA di Windows

computer ->control panel -> advanced system setting -> advenced -> PILIH Environments variable

variable name: CLASSPATH

variable value: C:\Program Files\Java\jdk1.8.0_60\lib\tools.jar;,

variable name: HOME

variable value: C:\Program Files\Java\jdk1.8.0_60;,

variable name: PATH

variable value: C:\Program Files\Java\jdk1.8.0_60\bin;,

PATH java

 

Advertisements

Cinta penuh keteladanan

forest

‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali.

“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..”

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. “

“Aku?”, tanyanya tak yakin.

“Ya. Engkau wahai saudaraku!”

“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

 

Cinta sahabat Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra memang luar biasa indah, cinta  yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun expresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Konon karena saking teramat rahasianya setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya.
Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Ummar melamar fatimah. Sementara dirinya  belum siap untuk melakukannya.
Namun kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah.
Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.
Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”,
Ali pun bertanya mengapa ia tak mahu menikah dengannya, dan  apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”.

foreign students at universitas nasional

foreign students at universitas nasional (UNAS)

Dual degree program: faculty of Economics, UNAS

A total of 27 students from Guangxi University for Nationalities, P.R. China led by its faculty member, Ms. Yang Junchu, arrived in Jakarta on July 27, 2012. Following their seniors who had graduated from the Indonesian Study Program, these students would begin their two-year joint degree program to study Management in the Faculty of Economics, UNAS. After settling in their accommodations, the 20 female and 7 male students immediately took part in Akselerasi Bahasa Indonesia (Indonesian Language) program, led by Drs. Somadi Sosrohadi, M.Pd, Arju Susanto, S.S., M.Pd, and team which would take place until the beginning of September 2012 and preliminary lectures on culture given by Dr. Wahyu Wibowo, M.M., introduction to economics by Suryono, S.E., M.M., and cross-cultural orientation by Nia Levina, M.Si. Cooperation between UNAS and GXUN which began in 2007 had included exchange visits from the Presidents and faculty members of both universities. Last year, the Memorandum of Understanding was renewed by the Rector of UNAS, Drs. El Amry Bermawi Putera, M.A. and the President of GXUN, Prof. Dr. He Longqun. and 7 students from nagasaki university and nagasaki institute applied sciance- japan study for reptiles

Darmasiswa

in addition,  and 16 student from other countries study bahasa indonesia (indonesian language) from DARMASISWA program. before, 11 students and 13 students from other countries in year 2010 & 2011.

further information visit  at: www.darmasiswa.diknas.go.id, applicants should notify to the Indonesian Embassy/Consulate General before applying online.

office of international cooperation

Universita Nasional, selasar 2nd floor

Jl. Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu- Jakarta, 12520 Indonesia

email: oic@unas.ac.id

Darmasiswa

Darmasiswa

DARMASISWA is a scholarship program offered to all foreign students from countries which have diplomatic relationship with Indonesia to study Bahasa Indonesia, arts, music and crafts. Participants can choose one of 45 different universities located in different cities in Indonesia. This program is organized by the Ministry of National Education (MoNE) in cooperation with the Ministry of Foreign Affairs (MoFA).

The DARMASISWA program was started in 1974 as part of ASEAN (Association of South East Asian Nations) initiative, admitting only students from ASEAN. However, in 1976 this program was extended to include students from other countries such as Australia, Canada, France, Germany, Hungary, Japan, Mexico, the Netherlands, Norway, Poland, Sweden, and USA. In early 90’s, this program was extended further to include all countries which have diplomatic relationship with Indonesia. Until to date, the number of countries participating in this program is more than 75 countries.

The main purpose of the DARMASISWA program is to promote and increase the interest in the language and culture of Indonesia among the youth of other countries. It has also been designed to provide stronger cultural links and understanding among participating countries.

Darmasiswa RI Program is conducted in 2 schemes, i.e :

  • Regular 1 (One) Year -Darmasiswa RI scholarship Program

Regular One Year program is a one-year scholarship program offered to foreign students from countries which have diplomatic relationship with Indonesia to study Bahasa Indonesia, Art (traditional music, traditional dance, craft) Culinary and Tourism in selected Indonesian Higher Education Institutions.

  • Regular 6 (Six) Months – Darmasiswa RI scholarship Program

Regular six-month program is a six-month scholarship program offered to foreign students from countries which have diplomatic relationship with Indonesia to study Bahasa Indonesia in selected Indonesian Higher Education Institutions.
The Scholarship Covers
Monthly allowance will be received by participant is Rp 1.500.000,00 (one million and five hundred thousand rupiah), and will be transferred to the University/college where they study.

The participant is advised to bring enough money in US dollar for unexpected additional expenses in Indonesia.
 Qualifications of Applicants

  1. Fill out application form
  2. Not more than 35 years old
  3. Completed secondary education or its equivalent
  4. Copy of academic transcript
  5. In good health as proved by Medical Certificate
  6. Passport size color photograph (5 pieces)
  7. Full-page copy of passport valid for at least 18 months from time of arrival in Indonesia
  8. Able to communicate in English and have a basic knowledge of the field they are applying for
  9. Procedure
    The applicant should apply through the following procedures:

    1. Indonesian Embassy/Consulate General in the country of residence.
    2. Visit the website at: www.darmasiswa.diknas.go.id, applicants should notify to the Indonesian Embassy/Consulate General before applying online.

    The documents of applicants who have been selected by the Indonesian Embassy will be submitted to the Bureau of Planning and International Cooperation, Ministry of National Education or the Directorate of Public Diplomacy, Ministry of Foreign Affairs, addressed:

    Head Bureau of Planning and International Cooperation
    Secretariat General
    Department of National Education

    Jalan Jenderal Sudirman,
    Senayan-Jakarta
    Telp./Fax. (62-21) 5724707, 5738181
    Website: http://darmasiswa.diknas.go.id
    and mail to : darmasiswa_pkln@diknas.go.id

    or
    Director of Public Diplomacy
    Ministry of Foreign Affairs
    Jalan Taman Pejambon No. 6
    Jakarta
    Telp. (62-21) 3813480,
    Fax. (62-21) 3858035

    Further inquiries:  

    Center for Language Services / Pusat Pelayanan Bahasa
    Universitas Nasional
    Pejaten Campus, Block 1, 3rd Floor
    Telp       : +62 21 7806700
    E-mail    :  bipa@unas.ac.id